blograme

Music My Inspiration :)

#SIP Pengertian Informasi dan Sistem Informasi Psikologi

Pengertian informasi dan sistem informasi psikologi

Kata informasi berasal dari kata Perancis kuno informacion (tahun 1387) yang diambil dari bahasa Latin informationem yang berarti “garis besar, konsep, ide”. Informasi merupakan kata benda dari informare yang berarti aktivitas dalam “pengetahuan yang dikomunikasikan”. Definisi informasi adalah pesan (ucapan atau ekspresi) atau kumpulan pesan yang terdiri dari order sekuens dari simbol, atau makna yang dapat ditafsirkan dari pesan atau kumpulan pesan. Informasi juga dapat didefinisikan sebagai data yang sudah diolah menjadi suatu bentuk lain yang lebih berguna yaitu pengetahuan atau keterangan yang ditujukan bagi penerima dalam pengambilan keputusan, baik masa sekarang atau yang akan datang.

Selain definisi tadi, beberapa ahli juga mendefinisikan istilah informasi sebagai berikut:

  1. Abdul Kadir

Informasi merupakan data yang telah proses sedemikian rupa sehingga meningkatkan pengetahuan orang yang menggunakan data tersebut.

2. Tata Sutabri

Informasi adalah data yang telah diklasifikasikan atau diolah atau diinterprestasikan untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan.

3. Jogiyanto HM

Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya.

Dari seluruh definisi informasi di atas, dapat disimpulkan bahwainformasi adalah kumpulan data yang telah diolahsedemikain rupa menjadi bentuk yang lebih berguna dan dapat dipahami bagi penerimanya sehingga dapat menambah atau meningkatkan pengetahuan.

SISTEM

Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) yang dapat diartikan sebagai suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, di mana suatu model matematika seringkali bisa dibuat. Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak, contoh umum misalnya seperti negara.

Kata “sistem” banyak sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari, dalam forum diskusi maupun dokumen ilmiah. Kata ini digunakan untuk banyak hal, dan pada banyak bidang pula, sehingga maknanya menjadi beragam. Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan benda yang memiliki hubungan di antara mereka.

Selain definisi di atas, beberapa ahli juga mencoba mendefinisiskan sistem. Berikut definisis sistem menurut para ahli:

  1. James Havery

Menurutnya sistem adalah prosedur logis dan rasional untuk merancang suatu rangkaian komponen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan maksud untuk berfungsi sebagai suatu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.

2. John Mc Manama

Menurutnya sistem adalah sebuah struktur konseptual yang tersusun dari fungsi-fungsi yang saling berhubungan yang bekerja sebagai suatu kesatuan organik untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan secara efektif dan efesien.

3. W. Churchman.

Menurutnya sistem adalah seperangkat bagian-bagian yang dikoordinasikan untuk melaksanakan seperangkat tujuan.

PSIKOLOGI

Psikologi berasal dari perkataan Yunani yaitu “psyche” yang artinya jiwa, dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologis (arti kata) psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya, maupun latar belakangnya. Dengan singkat di sebut ilmu jiwa.

Beberapa ahli juga mendifinisikan psikologi sebagai berikut:

  1. Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 13

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan binatang baik yang dapat dilihat  secara langsung maupun yang tidak dapat dilihat secara langsung.

2. Dakir

Psikologi membahas tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungannya.

3. Muhibbin Syah

Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Tingkah laku terbuka adalah tingkah laku yang bersifat psikomotor yang meliputi perbuatan berbicara, duduk , berjalan dan lain sebgainya, sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berfikir, berkeyakinan, berperasaan dan lain sebagainya.

Dari seluruh definisi psikologi di atas, dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan hewan, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat secara langsung yang berguna sebagai suatu usaha untuk memahami proses mental.

SISTEM INFORMASI

  1. John F. Nash

Sistem Informasi adalah kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang bermaksud menata jaringan komunikasi yang penting, proses atas transaksi-transaksi tertentu dan rutin, membantu manajemen dan pemakai intern dan ekstern dan menyediakan dasar pengambilan keputusan yang tepat.

2. Rommey

Sistem Informasi adalah cara-cara yang diorganisasi untuk mengumpulakn, memasukkan, mengolah, dan menyimpan data dan cara-cara yang diorganisasi untuk menyimpan, mengelola, mengendalikan dan melaporkan informasi sedemikian rupa sehingga sebuah organisasi dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem informasi merupakan kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang bermaksud menata jaringan komunikasi yang penting, untuk mengumpulakn, memasukkan, mengolah, dan menyimpan data dan cara-cara yang diorganisasi untuk menyimpan, mengelola, mengendalikan dan melaporkan informasi sedemikian rupa sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI (SIP)

Dari keseluruhan uraian mengenai sistem, Informasi, dan psikologi di atas, maka dapat kita coba tarik kesimpulan bahwa definisi “Sistem Informasi Psikologi” adalah suatu sistem atau tata cara yang merupakan kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan data mengenai perilaku terlihat maupun tidak terlihat secara langsung serta proses mental yang terjadi pada manusia sehingga data tersebut dapat diubah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu seperti tujuan penelitian. Contoh nyata dari pengaplikasian SIP dalam kehidupan adalah penggunaan teknologi dalam pengambilan data tes psikologi, dalam hal ini umumnya komputer (komputerisasi alat tes psikologi).

Komponen sistem informasi:

Karakteristik sistem, yaitu :

  1. Komponen sistem (component)

Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, yang saling bekerja sama membentuk suatu komponen sistem atau bagian-bagian dari sistem.

2. Batasan Sistem (boundaries)

Merupakan daerah yang membatasi suatu sistem dengan sistem yang lain atau dengan lingkungan kerjanya.

3. Subsistem

Bagian-bagian dari sistem yang beraktivitas dan berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan dengan sasarannya masing-masing.

4. Lingkungan Luar Sistem (environment)

Suatu sistem yang ada di luar dari batas sistem yang dipengaruhi oleh operasi sistem.

5. Penghubung Sistem (interface)

Media penghubung antar suatu subsistem dengan subsistem lain.

6. Masukan Sistem (input)

Energi yang masuk ke dalam sistem berupa perawatan dan sinyal

7. Keluaran Sistem (output)

Hasil energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna dan sisa pembuangan.

8. Pengolahan Sistem (process)

Suatu sistem dapat memilikisuatu bagian pengolah yang akan mengubah masukan menjadi keluaran.

9. Sasaran Sistem (object)

Tujuan yang ingin dicapai oleh sistem, akan dikatakan berhasil apabila mengenai sasaran atau tujuan.

Sumber:

Ahmadi, H. Abu. (2009). Psikologi umum (edisi revisi 2009). Jakarta: RINEKA CIPTA

Basuki, A. M. Heru. (2008). Psikologi umum. Depok: Universitas Gunadarma

Maryono & Istiana Patmi. 2006. Teknologi Informasi dan Komunikasi. Yudhistira.http://books.google.co.id/

Sukardi & Sutarni, Sri. 2008. Bahasa Indonesia 3  SMA kelas  XII. Quadra.http://books.google.co.id/

Marimin, Tanjung & Prabowo. 2006. Sistem Informasi Manajemen Sumber Daya Manusia. Bogor : Grasindo.

Sarosa, Samiaji. Sistem Informasi Akutansi. Grasindo

Kusrini & Koniyo, Andri. 2007. Tuntunan Praktis Membangun Sistem Informasi Akutansi denganVisual Basic & Microsoft SQL Server. Yogyakarta : C.V. Andi Offset.

Oktober 23, 2015 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Komunikasi Dalam Manajemen

A. Definisi Komunikasi
Komunikasi diartikan sebagai proses pemindahan dalam gagasan atau informasi seseorang ke orang lain. Komunikasi mempunyai pengertian tidak hanya berupa kata –kata yang disampaikan seseorang tapi mempunyai pengertian yang lebih luas seperti ekspresi wajah , intonasi dan sebagainya. Komunikasi dapat menghubungkan antara bagian yang berbeda atau disebut rantai pertukaran informasi. Hal ini mengandung unsur-unsur ;
1.      Sesbagai kegiatan untuk seseorang mengerti
2.      Sebagai sarana pengendalian informasi
3.      Sebagai sistem bagi terjalinnya komunikasi diantara individu-individu
Komunikasi yang efektif adalah penting bagi manajer karena sebagai proses dimana fungsi manajemen seperti fungsi peremcanaan , fungsi pengorganisasian , fungsi kepemimpinan dan fungsi pengendalian sebagian besar dari waktunya. Proses komunikasi memungkinkan para manajer menjalankan tanggung jawabnya dan informasi harus dikomunikasikan kepada manajer sebagai dasar pembuatan keputusan dalam pembuatan fungsi-fungsi manajemen baik secara tertulis maupun lisan.
Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia. Karena itu merujuk pada pengertian Ruben dan Steward(1998:16) mengenai komunikasi manusia yaitu: Human communication is the process through which individuals –in relationships, group, organizations and societies—respond to and create messages to adapt to the environment and one another. Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain.
Komunikasi adalah alat yang utama untuk mempengaruhi perubahan perilaku. Kita dapat memisah-misahkan paling tidak empat dimensi yang bebas dari proses komunikasi ; isi , suara , ciri-ciri jaringan dan arah. Komunikasi satu arah mempunyai beberapa keuntungan dalam kecepatannya yang melebihi komunikasi dua arah. Komunikasi satu arah juga mempunyai keuntungan-keuntungan lain yaitu melindungi si pengirim dari pengenalan terhadap kesalahan-kesalahan sendiri dan juga melindunginya dari beberapa masalah yang semakin kompleks di dalam memimpin. Komunikasi dua arah mempunyai keuntungan-keuntungan karena lebih teliti dan lebih banyak meyakinkan perasaan si penerima. Tetapi komunikasi dua arah juga lebih memerlukan perencanaan dari si pengirim tentang hal-hal yang menyangkut pesanan yang ingin disampaikan dan menimbulkan serangkaian masalah yang baru dalam kepemimpinan.
 
Menurut Koontz & Weichrich , kita memerlukan komunikasi untuk :
·         Menyatakan dan menyebarkan tujuan perusahaan
·         Mengembangkan perencanaan agar tujuan tercapai
·         Menata sumber daya manusia dan berbagai sumber daya lainnya dengan cara yang paling efektif dan efisien
·         Untuk memilih , mengembangkan dan menilai anggota organisasi
·         Untuk memimpin , mengarahkan dan menciptakan sebuah iklim dimana karyawan ingin berkontribusi
·         Mengawasi dan menjaga kinerja yang ada
 
B.     Proses Komunikasi
Proses komunikasi adalah bagaimana komunikator menyampaikan pesan kepada komunikannya, sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan komunikatornya. Proses komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi, banyak melalui perkembangan. Proses komunikasi dapat terjadi apabila ada interaksi antar manusia dan ada penyampaian pesan untuk mewujudkan motif komunikasi.
Secara ringkas, proses berlangsungnya komunikasi bisa digambarkan seperti berikut :
1.      Komunikator (sender) yang mempunyai maksud berkomunikasi dengan orang lain mengirimkan suatu pesan kepada orang yang dimaksud. Pesan yang disampaikan itu bisa berupa informasi dalam bentuk bahasa ataupun lewat simbol-simbol yang bisa dimengerti kedua pihak.
2.      Pesan (message) itu disampaikan atau dibawa melalui suatu media atau saluran baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya berbicara langsung melalui telepon, surat, e-mail, atau media lainnya.
3.      Media (channel) alat yang menjadi penyampai pesan dari komunikator ke komunikan.
4.      Komunikan (receiver) menerima pesan yang disampaikan dan menerjemahkan isi pesan yang diterimanya ke dalam bahasa yang dimengerti oleh komunikan itu sendiri.
5.      Komunikan (receiver) memberikan umpan balik (feedback) atau tanggapan atas pesan yang dikirimkan kepadanya, apakah dia mengerti atau memahami pesan yang dimaksud oleh si pengirim.
Tahapan proses komunikasi adalah sebagai berikut :
a.       Penginterprestasian, hal yang diinterpretasikan adalah motif komunikasi, terjadi dalam diri komunikator. Artinya, proses komunikasi tahap pertama bermula sejak motif komunikasi muncul hingga akal budi komunikator berhasil menginterpretasikan apa yang ia pikir dan rasakan ke dalam pesan (masih abstrak). Proses penerjemahan motif komunikasi ke dalam pesan disebut interpreting.
b.      Penyandian, pada tahap ini masih ada dalam komunikator dari pesan yang bersifat abstrak berhasil diwujudkan oleh akal budi manusia ke dalam lambang komunikasi. Tahap ini disebut encoding, akal budi manusia berfungsi sebagai encorder, alat penyandi: mengubah pesan abstrak menjadi konkret.
c.       Pengiriman, proses ini terjadi ketika komunikator melakukan tindakan komunikasi, mengirim lambang komunikasi dengan peralatan jasmaniah yang disebut transmitter, alat pengirim pesan.
d.      Perjalanan, pada tahapan ini terjadi antara komunikator dan komunikan, sejak pesan dikirim hingga pesan diterima oleh komunikan.
e.       Penerimaan, pada tahapan ini ditandai dengan diterimanya lambang komunikasi melalui peralatan jasmaniah komunikan.
f.       Penyandian Balik, pada tahap ini terjadi pada diri komunikan sejak lambang komunikasi diterima melalui peralatan yang berfungsi sebagai receiver hingga akal budinya berhasil menguraikannya (decoding).
g.      Penginterpretasian, pada ahap ini terjadi pada komunikan, sejak lambang komunikasi berhasil diurai kan dalam bentuk pesan.
 
C.     Hambatan Komunikasi
Di dalam komunikasi selalu ada hambatan yang dapat mengganggu kelancaran jalannya proses komunikasi. Sehingga informasi dan gagasan yang disampaikan tidak dapat diterima dan dimengerti dengan jelas oleh penerima pesan atau receiver.
Menurut Ron Ludlow & Fergus Panton, ada hambatan-hambatan yang menyebabkan komunikasi tidak efektif yaitu adalah (1992,p.10-11) :
1.      Status effect
        Adanya perbedaaan pengaruh status sosial yang dimiliki setiap manusia.Misalnya karyawan dengan status sosial yang lebih rendah harus tunduk dan patuh apapun perintah yang diberikan atasan. Maka karyawan tersebut tidak dapat atau takut mengemukakan aspirasinya atau pendapatnya.
2.      Semantic Problems
        Faktor semantik menyangkut bahasa yang dipergunakan komunikator sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaanya kepada komunikan. Demi kelancaran komunikasi seorang komunikator harus benar-benar memperhatikan gangguan sematis ini, sebab kesalahan pengucapan atau kesalahan dalam penulisan dapat menimbulkan salah pengertian (misunderstanding) atau penafsiran (misinterpretation) yang pada gilirannya bisa menimbulkan salah komunikasi (miscommunication). Misalnya kesalahan pengucapan bahasa dan salah penafsiran seperti contoh : pengucapan demonstrasi menjadi demokrasi, kedelai menjadi keledai dan lain-lain.
3.      Perceptual distorsion
        Perceptual distorsion dapat disebabkan karena perbedaan cara pandangan yang sempit pada diri sendiri dan perbedaaan cara berpikir serta cara mengerti yang sempit terhadap orang lain. Sehingga dalam komunikasi terjadi perbedaan persepsi dan wawasan atau cara pandang antara satu dengan yang lainnya.
4.      Cultural Differences
        Hambatan yang terjadi karena disebabkan adanya perbedaan kebudayaan, agama dan lingkungan sosial. Dalam suatu organisasi terdapat beberapa suku, ras, dan bahasa yang berbeda. Sehingga ada beberapa kata-kata yang memiliki arti berbeda di tiap suku. Seperti contoh : kata “jangan” dalam bahasa Indonesia artinya tidak boleh, tetapi orang suku jawa mengartikan kata tersebut suatu jenis makanan berupa sup.
5.      Physical Distractions
        Hambatan ini disebabkan oleh gangguan lingkungan fisik terhadap proses berlangsungnya komunikasi. Contohnya : suara riuh orang-orang atau kebisingan, suara hujan atau petir, dan cahaya yang kurang jelas.
6.      Poor choice of communication channels
        Adalah gangguan yang disebabkan pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi. Contoh dalam kehidupan sehari-hari misalnya sambungan telephone yang terputus-putus, suara radio yang hilang dan muncul, gambar yang kabur pada pesawat televisi, huruf ketikan yang buram pada surat sehingga informasi tidak dapat ditangkap dan dimengerti dengan jelas.
7.      No Feed back
        Hambatan tersebut adalah seorang sender mengirimkan pesan kepada receiver tetapi tidak adanya respon dan tanggapan dari receiver maka yang terjadi adalah komunikasi satu arah yang sia-sia. Seperti contoh : Seorang manajer menerangkan suatu gagasan yang ditujukan kepada para karyawan, dalam penerapan gagasan tersebut para karyawan tidak memberikan tanggapan atau respon dengan kata lain tidak peduli dengan gagasan seorang manajer.
 
D.  Definisi Komunikasi Interpersonal Efektif
 
Komunikasi interpersonal, secara ringkas yaitu berkomunikasi di antara dua orang atau lebih yang saling timbal balik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994), yang dimaksud dengan komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.
 
Sumber:
Nasional, D. P. (1994). Kamus besar bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
 
Menurut Kamus Psikologi (dalam Rakhmat, 2001), komunikasi didefinisikan segala penyampaian energi, gelombang suara dan tanda di antara tempat sebagai proses penyampaian suatu pesan dalam bentuk lambang bermakna sebagai paduan pikiran dan perasaan berupa ide, informasi, kepercayaan, harapan, imbauan, dan sebagainya, yang dilakukan seseorang kepada orang lain, baik langsung secara tatap muka maupun tidak langsung melalui media dengan tujuan mengubah sikap, pandangan atau perilaku.
 
Sumber:
Rakhmat, J. (2001). Psikologi komunikasi. Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
 
Komunikasi interpersonal adalah suatu pengiriman dan penerimaan pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang dengan beberapa umpan balik seketika. Komunikasi ini dianggap efektif dalam hal upaya untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang karena sifatnya dialogis, berlangsung secara tatap muka (face to face) dan menunjukkan suatu interaksi sehigga terjadi kontak pribadi atau personal contact(Effendy, 2002).
 
Sumber:
Effendy, Onong, Uchjana. (2002). Dinamika komunikasi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
 
Menurut De Vito (dalam Sendjaja, 2004) karakteristik–karakteristik efektivitas komunikasi interpersonal terbagi 2 (dua) perspektif, yaitu :
1.    Perspektif humanistik, meliputi sifat–sifat yaitu:
a.    Keterbukaan
Sifat keterbukaan tentang komunikasi interpersonal yaitu:
1)   Bahwa kita harus terbuka pada orang–orang yang berinteraksi. Hal ini tidak berarti bahwa serta merta menceritakan semua latar belakang kehidupan, namun yang paling penting adakemauan untuk membuka diri pada masalah–masalah umum. Di sini orang lain akanmengetahui pendapat, pikiran dan gagasan kita, sehingga komunikasi akan mudah dilakukan.
2)   Keterbukaan menunjukkan pada kemauan diri untuk memberikan tanggapan terhadap orang lain dengan jujur dan terus terang tentang segala sesuatu yang dikatakannya. Demikian pula sebaliknya, orang lain memberikan tanggapan secara jujur dan terbuka tentang segala sesuatu yang dikatakan. Di sini keterbukaan diperlukan dengan cara memberi tanggapan secara spontan dan tanpa dalih terhadap komunikasi dan umpan balik orang lain. Tentunya, hal ini tidak dapat dengan mudah dilakukan dan dapat menimbulkan kesalahpahaman orang lain, seperti marah atau tersinggung.
 
b.    Empati
Empati adalah kemampuan seseorang untuk menempatkan dirinya pada peranan atau posisi orang lain. dalam arti bahwa seseorang secara emosional maupun intelektual mampu memahami apa yang dirasakan dan dialami orang lain. Dengan empati seseorang berusaha melihat dan merasakan seperti yang dilihat dan dirasakan orang lain.
 
c.    Perilaku Suportif
Komunikasi interpersonal akan efektif bila dalam diri seseorang ada perilaku suportif. Artinya, seseorang dalam menghadapi suatu masalah tidak bersikap bertahan (defensif). Keterbukaan dan empati tidak dapat berlangsung dalam suasana yang tidak suportif, yakni: deskriptif, spontanitas dan provisionalisme. Sebaliknya dalam perilaku defensif ditandai dengan sifat–sifat: evaluasi, strategi dan kepastian.
1)   Deskriptif
Suasana yang deskriptif akan menimbulkan sikap suportif dibandingkan dengan evaluatif. Artinya, orang yang memiliki sifat ini lebih banyakmeminta informasi atau deskripsi tentang suatu hal. Dalam suasana seperti ini, biasanya orang tidak merasa dihina atau ditantang, tetapi merasa dihargai.
 
2)   Spontanitas
Orang yang spontan dalam komunikasi adalah orang terbuka dan terus terang tentang apa yang dipikirkannya. Biasanya orang seperti itu akan ditanggapi dengan cara yang sama, terbuka dan terus terang.
3)   Provisionalisme
Seseorang yang memiliki sifat ini adalah memiliki sikap berpikir, terbuka, ada kemauan untuk mendengar pandangan yang berbeda dan bersedia menerima pendapat orang lain, bila memang pendapatnya keliru.
 
d.   Perilaku Positif
Komunikasi interpersonal akan efektif bila memiliki perilaku positif. Sikap positif dalam komunikasi interpersonal menunjuk paling tidak pada dua aspek, yaitu:
1)   Komunikasi interpersonal akan berkembang bila ada pandangan positif terhadap diri sendiri.
2)   Mempunyai perasaan positif terhadap orang lain dan berbagai situasi komunikasi.
 
e.    Kesamaan
Kesamaan dalam komunikasi interpersonal ini mencakup dua hal yaitu:
1)   Kesamaan bidang pengalaman di antara para pelaku komunikasi. Artinya, komunikasi interpersonal umumnya akan lebih efektif bila para pelakunya mempunyai nilai, sikap, perilaku dan pengalaman yang sama. Hal ini tidak berarti bahwa ketidaksamaan tidaklah komunikatif.
2)   Kesamaan dalam percakapan di antara para pelaku komunikasi, memberi pengertian bahwa dalam komunikasi interpersonal harus ada kesamaan dalam hal mengirim dan menerima pesan.
 
2.    Perspektif pragmatis, meliputi sifat–sifat yaitu:
 
a.    Bersikap Yakin
Komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila seseorang mempunyai keyakinan diri. Dalam arti bahwa seorang tidak merasa malu, gugup atau gelisah menghadapi orang lain. dalam berbagai situasi komunikasi, orang yang mempunyai sifat semacam ini akan bersikap luwes dan tenang, baik secara verbal maupun non verbal.
 
b.    Kebersamaan
Seseorang bisa meningkatkan efektivitas komunikasi interpersonal dengan orang lain bila ia bisa membawa rasa kebersamaan. Orang yang memiliki sifat ini, bila berkomunikasi dengan orang lain akan memperhatikannya dan merasakan kepentingan orang lain.
 
c.    Manajemen Interaksi
Seseorang yang menginginkan komunikasi yang efektif akan mengontrol dan menjaga interaksi agar dapat memuaskan kedua belah pihak, sehingga tidak seorang pun merasa diabaikan. Hal ini ditunjukkan dengan mengatur isi, kelancaran dan arah pembicaraan secara konsisten. Dan biasanya, dalam berkomunikasi orang yang memiliki sifat semacam ini akan menggunakan pesan–pesan verbal dan non verbal secara konsisten pula.
 
d.   Perilaku Ekspresif
Perilaku ekspresif memperlihatkan keterlibatan seseorang secara sungguh–sungguh dalam berinteraksi dengan orang lain. Perilaku ekspresif ini hampir sama dengan keterbukaan, mengekspresikan tanggung jawab terhadap perasaan dan pikiran seseorang, terbuka pada orang lain dan memberikan umpan balik yang relevan.
Orang yang berperilaku ekspresif akan menggunakan berbagai variasi pesan baik secara verbal maupun non verbal, untuk menyampaikan keterlibatan dan perhatiannya pada apa yang sedang dibicarakan.
 
e.    Orientasi pada Orang Lain
Untuk mencapai efektivitas komunikasi, seseorang harus memiliki sifat yang berorientasi pada orang lain. Artinya adalah kemampuan seseorang untuk beradaptasi dengan orang lain selama berkomunikasi interpersonal. Tentunya, dalam hal ini seseorang harus mampu melihat perhatian dan kepentingan orang lain. selain itu, orang yang memiliki sifat ini harus mampu merasakan situasi dan interaksi dari sudut pandang orang lain serta menghargai perbedaan orang lain dalam menjelaskan suatu hal.
 
Sumber:
Sendjaja, D. S. (2004). Pengantar ilmu komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka.
 
E. Komunikasi Interpersonal efektif dalam Organisasi yang mencakup Componential dan Situational

  Komunikasi dalam organisasi atau perusahaan dapat menentukan efektif atau tidaknya dalam suatu penyampaian pesan atau perintah antar anggota organisasi, baik antara atasan dengan bawahan (downward communication), bawahan dengan atasan (upward communication), maupun antar anggota yang jabatannya setaraf (lateral communication). Secara sederhana, komunikasi adalah proses penyampaian atau transfer dan pemahaman suatu pengertian (meaning). Jadi dalam berkomunikasi, kita harus efektif menyampaikan pesan yang ada pada kita kepada orang lain. Adapun berkomunikasi secara langsung dan sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Karena dapat mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang dengan efek umpan balik secara langsung.
  Proses berkomunikasi dimulai dari adanya pesan yang akan disampaikan oleh pengirim, kemudian ditransfer melalui suatu channel (saluran), kemudian diterima oleh penerima. Adapun komunikasi interpersonal efektif dalam suatu organisasi mencakup dua bagian yaitu componential dan situational.
1. Componential
   Menjelaskan komunikasi antar pribadi dengan mengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik dengan segera.
2. Situasional
  Interaksi tatap muka antara dua orang dengan potensi umpan balik langsung dengan situasi yang mendukung disekitarnya.

 

\

Sumber :

Januari 20, 2014 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

KASUS PENURUNAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK

 Pada zaman sekarang ini perekonomian yang semakin mahal dan harga kebutuhan pokok semakin meningkat. Banyak sekali muncul di media masa tentang maraknya para pedagang yang manjual barang dagangannya secara tidak halal dengan cara memalsukannya. Contohnya saja : Penjualan alat kosmetik.

Hampir seluruh wanita yang telah remaja sampai yang sudah tuapun masih menggunakan kosmetik untuk tampil cantik. Namun di Indonesia sekarang ini banyak sekali para pedagang yang memalsukan kosmetik tersebut, agar ia mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Pada waktu saya sedang mengantarkan kakak saya membeli sebuah produk kosmetik di pasar tradisional. Tanpa melihat secara detail kosmetik tersebut kakak saya langsung membelinya, tetapi ternyata kosmetik tersebut palsu. Kosmetik palsu sangat berbahaya bagi kulit jika digunakan. Perilaku seorang pedagang seperti sangat merugikan konsumen dan seharusnya pemerintah dapat menindak lanjuti kasus seperti ini.

Kasus ini merupakan kurangnya pengawasan (controlling) pemerintah terhadap produk-produk dalam negeri, sehingga dapat sangat merugikan konsumen.

Oktober 31, 2013 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Organisasi Struktur Manajemen

  1. A.  PENGORGANISASIAN STRUKTUR MANAJEMEN

 

     I.        Definisi Pengorganisasian

Pengertian Pengorganisasian adalah suatu proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan, sumber daya yang dimiliki, dan lingkungan yang melingkupinya.

 

   II.        DEFINISI STRUKTUR ORGANISASI

Struktur adalah cara sesuatu disusun atau dibangun, sedangkan Organisasi adalah suatu wadah berkumpulnya minimal dua orang untuk mencapai sebuah tujuan. Jadi, Struktur Organisasi adalah Suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian secara posisi yang ada pada perusahaaan dalam menjalin kegiatan operasional untuk mencapai tujuan. Dalam struktur organisasi yang baik harus menjelaskan hubungan wewenang siapa melapor kepada siapa, jadi ada satu pertanggung jawaban apa yang akan di kerjakan.

 

  III.        Pengorganisasian Sebagai Fungsi Manajemen

Pengorganisasian sebagai fungsi manajemen antara lain yaitu :

  1. Mengatur orang – orang
  2. Mengatur kegiatan dalam perusahaan
  3. Mengadakan pembagian kerja
  4. Menempatkan orang – orang dalam departemen
  5. Menetapkan batasan – batasan wewenang

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. B.  ACTUATING MANAJEMEN

 

     I.        Definisi Actuating

Menurut George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut. Pengertian Actuating secara bahasa adalah pengarahan atau dengan kata lain pergerakan pelaksanaan, sedang pengertian secara istilah actuating (pengarahan) adalah mengarahkan semua personal agar mau bekerja sama dan bekerja efektif dalam mencapai tujuan suatu organisasi. Fungsi actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi.

 

   II.        Pentingnya Actuating

Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanan (actuating) ini adalah bahwa seorang karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu jika :

  1. Merasa yakin akan mampu mengerjakan
  2. Yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi dirinya
  3. Tidak sedang dibebani oleh problem pribadi atau tugas lain yang lebih penting, atau mendesak
  4. Tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan dan
  5. Hubungan antar teman dalam organisasi tersebut harmonis.

 

  III.        Prinsip Actuating

Menurut Kurniawan (2009) prinsip-prinsip dalam penggerakan/actuating antara lain :

  1. Memperlakukan pegawai dengan sebaik-baiknya
  2. Mendorong pertumbuhan dan perkembangan manusia
  3. Menanamkan pada manusia keinginan untuk melebihi
  4. Menghargai hasil yang baik dan sempurna
  5. Mengusahakan adanya keadilan tanpa pilih kasih
  6. Memberikan kesempatan yang tepat dan bantuan yang cukup
  7. Memberikan dorongan untuk mengembangkan potensi dirinya

 

  1. C.  MENGENDALIKAN FUNGSI MANAJEMEN

 

     I.        Definisi Mengendalikan (Controlling)

Pengendalian sebagai sebuah fungsi dari manajemen telah mengalami perkembangan definisi dari masa ke masa, yang cukup popular adalah pendapat Usury dan Hammer (1994:5) yang berpendapat bahwa :

“Controlling is management’s systematic efforts to achieve objectives bycomparing performances to plan and taking appropriate action to correct important differences” yang artinya pengendalian adalah sebuah usahasistematik dari manajemen untuk mencapai tujuan dengan membandingkankinerja dengan rencana awal kemudian melakukan langkah perbaikan terhadap perbedaan-perbedaan penting dari keduanya. Namun secara sederhana pengendalian dapat diartikan sebagai proses penyesuaian pergerakan organisasi dengan tujuannya.

 

   II.        Langkah-langkah Dalam Kontrol

Langkah-langkah kontrol di dalam fungsi manajemen adalah :

  1. penetapan standar pelaksanaan
  2. penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan
  3. pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata
  4. pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penganalisaan penyimpangan-penyimpangan
  5. pengambilan tindakan koreksi, bila diperlukan

 

  III.        Tipe-tipe kontrol

Donnelly (dalam Zuhad, 1996:302) mengelompokkan pengawasan (kontrol) menjadi 3 Tipe pengawasan yaitu :

  1. Pengawasan Pendahuluan (preliminary control). Pengawasan yang terjadi sebelum kerja dilakukan. Pengawasan Pendahuluan menghilangkan penyimpangan penting pada kerja yang diinginkan yang dihasilkan sebelum penyimpangan tersebut terjadi. Pengawasan Pendahuluan mencakup semua upaya manajerial guna memperbesar kemungkinan bahwa hasil-hasil aktual akan berdekatan hasilnya dibandingkan dengan hasil-hasil yang direncanakan.
  2. Pengawasan pada saat kerja berlangsung (cocurrent control). Pengawasan yang terjadi ketika pekerjaan dilaksanakan. Memonitor pekerjaan yang berlangsung guna memastikan bahwa sasaran-sasaran telah dicapai. Concurrent control terutama terdiri dari tindakan-tindakan para supervisor yang mengarahkan pekerjaan para bawahan mereka.
  3. Pengawasan Feed Back (feed back control). Pengawasan Feed Back yaitu mengukur hasil suatu kegiatan yang telah dilaksakan, guna mengukur penyimpangan yang mungkin terjadi atau tidak sesuai dengan standar.

 

 IV.        Kontrol Proses Manajemen

Kontrol sebagai fungsi manajemen melibatkan langkah-langkah berikut :

  1. Menetapkan standar. Standar kriteria terhadap hasilnya diukur. Mereka adalah norma untuk mencapai tujuan. Standar biasanya diukur dalam hal output. Mereka juga dapat diukur dalam istilah non-moneter seperti loyalitas, daya tarik pelanggan, goodwill dll.
  2. Mengukur kinerja. Pengukuran melibatkan perbandingan antara apa yang dicapai dan apa yang dimaksudkan untuk dicapai. Pengukuran kinerja aktual harus dalam unit yang sama dengan kriteria yang telah ditentukan. Unit atau tolak ukur tersebut sehingga dipilih menjadi jelas, didefinisikan dengan baik dan mudah diidentifikasi, dan harus seragam dan homogen selama proses pengukuran.
  3. Membandingkan kinerja aktual dengan kinerja yang diharapkan. Ini adalah prinsip aktif dari proses. Dua sebelumnya, penetapan tujuan dan format pengukuran adalah bagian dari proses persiapan. Ini adalah tanggung jawab manajemen untuk membandingkan kinerja aktual terhadap standar yang ditetapkan. Perbandingan ini kurang menyulitkan jika unit pengukuran untuk set standar dan kinerja yang diukur adalah sama dan diukur. Perbandingan menjadi lebih sulit ketika ini membutuhkan evaluasi subjektif.
  4. Mengoreksi Penyimpangan. Elemen terakhir dalam proses adalah mengambil tindakan korektif. Mengukur dan membandingkan kinerja, mendeteksi kelemahan, kegagalan atau penyimpangan, dari rencana akan sia-sia jika tidak mengarah ke tindakan korektif yang diperlukan.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://berita-i.blogspot.com/2013/06/definisi-pengorganisasian-pengertian.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Struktur_organisasi

http://rynaldi-dwitama.blogspot.com/2012/05/pengertian-struktur-organisasi.html

http://jurnal-sdm.blogspot.com/2013/01/teori-pengorganisasian-dalam-fungsi.html

http://machdans-manajemen.blogspot.com/2011/06/actuating.html

http://makalahcyber.blogspot.com/2012/04/penggerakan-actuating.html

http://arenamateribelajar.blogspot.com/2012/11/fungsi-manajemen-pengendalian.html

http://www.preservearticles.com/2012051932638/4-main-steps-in-control-process-in-management.html

Oktober 31, 2013 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

TULISAN II PENJUALANAN MOTOR KLASIK MENGGUNAKAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM MENJALANKAN PERDAGANGAN ELEKTRONIK (E-COMMERCE)

Perdagangan elektronik yang biasa disebut e-commerce adalah penggunaan jaringan komunikasi dan computer untuk melaksanakan proses bisnis. Secara umum e-commerce dapat didefinisikan sebagai segala bentuk transaksi perdagangan atau perniagaan barang atau jasa (trade of goods and service) dengan menggunakan media elektronik. Kegiatan perniagaan tersebut merupakan bagian dari kegiatan bisnis. Kesimpulannya, “e-commerce is a part of e-business”.

Banyak sekali pada zaman sekarang bisnis dilakukan secara online atau menggunakan media elektronik. Pada kasus ini, saya akan membahas tentang bisnis Kakak saya pada penjualan motornya. Sudah kurang lebih 2 tahun kakak saya membuka sebuah toko spare part motor dan menjual motor klasik dirumah dan dijual secara online dengan sistem penjualan via telephone dan COD. Kakak saya memasarkan produk penjualan dengan cara menawarkan via jejaring sosial komputer kaskus, toko bagus, dan berniaga selain itu kakak saya juga membuat browser web. Apabila konsumen sudah sepakat ingin membeli produk dengan kakak saya, lalu konsumen menghubungi via telephone dan melakukan transaksi dengan cara COD. Alhamdulillah bisnis kakak saya maju dan banyak sekali pelanggan yang sudah berlangganan dengan kakak saya, tentunya bagi pelanggan yang sudah berlangganan dengan kakak dan membeli barang cukup banyak akan mendapatkan potongan harga spesial.

Melakukan penjualan secara e-commerce memang tidak mudah dan banyak kendalanya antara lain yaitu : Biaya yang tinggi, Kekhawatiran akan masalah keamanan, dan Piranti lunak yang belum mapan atau belum tersedia. Tetapi ada juga manfaat pada penjualan e-commerce yaitu : Perbaikan layanan pelanggan sebelum, selama, dan setelah penjualan, Perbaikan hubungan dengan pemasok dan komunitas keuangan, dan Peningkatan imbal hasil eknomis atas pemegang saham dan investasi pemilik.

Sumber atau Referensi :

Raymond McLeodJr.George P.Schell (Edisi 10). “Sistem Informasi Manajemen”. Salemba Empat: 59-84.

http://akuntansibubung.wordpress.com/2012/04/02/menggunakan-teknologi-informasi-dalam-menjalankan-perdagangan-elektronik-e-commerce-sistem-informasi-manajemen/

Oktober 11, 2013 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

TULISAN I “CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT PADA KASUS PELAYANAN RUMAH SAKIT”

Customer relationship management (CRM) merupakan hubungan antara perusahaan dengan pelanggan sehingga baik pelanggan atau perusahaannya akan menerima nilai maksimum dari hubungan ini. Strategi ini akan menyadari bahwa membina hubungan jangka panjang dengan pelanggan adalah suatu strategi yang bagus, karena mempertahankan pelanggan yang sudah biasanya akan lebih murah daripada mendapatkan pelanggan yang baru. CRM pada rumah sakit sangat penting guna meningkatkan mutu pelayanan, agar para pasien puas terhadap pelayanan yang telah diberikan. Namun, belakangan ini banyak sekali keluhan para pasien terhadap pelayanan rumah sakit yang kurang memadai.

Kasus yang saya alami di salah satu rumah sakit daerah Jakarta Timur dan saya tidak ingin menyebutkan rumah sakitnya yaitu kasus terhadap pelayanan medis rumah sakit kurang memadai. Pada saat itu om saya sedang sakit jantung lalu pada malam hari keluarga membawanya ke rumah sakit tersebut, tetapi malah kekecewaan yang didapat. Pada saat di UGD rumah sakit itu om saya tidak mendapatkan penanganan dari dokter. Dokter tersebut hanya memberikan resep lalu menyuruh om saya pulang dan berkata “penyakit seperti ini mah dibawa kepoli jantung biasa saja bukan UGD” sedangkan om saya sakit jantung yang serius. Seharusnya sebagai dokter di rumah sakit memberikan pelayanan yang terbaik terhadap pasien, agar rumah sakit tersebut mendapatkan banyak pelanggan dengan cara meningkatkan kualitas pelayanan.  Kualitas pelayanan tersebut dibentuk dengan beberapa indikator seperti pemahaman perawat terhadap pasien, kepercayaan pasien dalam pengobatan, staf administrasi dan penanganan cepat oleh staf administrasi. Jadi, semakin baik pelayanan yang dibangun rumah sakit maka kepuasan pasien akan semakin meningkat pula.

Apabila rumah sakit menerapkan customer relationship management (CRM) dengan baik, maka rumah sakit harus meningkatkan mutu pelayanan terhadap para pasien yaitu pelayanan medis maupun pelayanan fasilitas agar banyak pasien yang berlangganan di rumah sakit tersebut. Pada kasus ini sasaran untuk menjalankan strategi CRM harus mempertimbangkan situasi spesifik yang dihadapi rumah sakit dan juga kebutuhan dan harapan pasien. Rumah sakit harus secara efektif mengelola untuk perbaikan pelayanan agar mendapat nilai tambah terhadap pasien.

 

 

Sumber atau Referensi :

Raymond McLeodJr.George P.Schell (Edisi 10). “Sistem Informasi Manajemen”. Salemba Empat: 247-248.

http://titikurniati.wordpress.com/2011/01/06/etika-dan-etiket-pelayanan-di-rumah-sakit-dalam-meningkatkan-kualitas-pelayanan/

http://drihsangpi.wordpress.com/2013/04/17/37/

Oktober 11, 2013 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

TUGAS 1 PSIKOLOGI MANAJEMEN #

A.  MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN

 

1.   Definisi Manajemen

 

Kata Manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno ménagement, yang memiliki arti “seni melaksanakan dan mengatur”. Manajemen Adalah Manajemen dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang memiliki target dan tujuan dengan menggunakan perencanaan, pengarahan serta pengorganisasian dalam mencapai tujuan tersebut.

Pengertian Manajemen Menurut Para Ahli :

Menurut Mary Parker Follet Manajemen Adalah sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.

Menurut Ricky W. Griffin Manajemen Adalah sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien.

Menurut Drs. Oey Liang Lee Manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan daripada sumberdaya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Menurut Prof. Eiji Ogawa Manajemen adalah Perencanaan, Pengimplementasian dan Pengendalian kegiatan-kegiatan termasuk system pembuatan barang yang dilakukan oleh organisasi usaha dengan terlebih dahulu telah menetapkan sasaran-sasaran untuk kerja yang dapat disempurnakan sesuai dengan kondisi lingkungan yang berubah.

 

2.   Jenis-jenis Manajemen

 

  • Manajemen Sumber Daya Manusia adalah penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk memperoleh sumber daya manusia yang terbaik bagi bisnis yang kita jalankan dan bagaimana sumber daya manusia yang terbaik tersebut dapat dipelihara dan tetap bekerja bersama kita dengan kualitas pekerjaan yang senantiasa konstan ataupun bertambah.
  • Manajemen Pemasaran adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada    intinya berusaha untuk mengidentifikasi apa sesungguhnya yang dibutuhkan oleh konsumen, dana bagaimana cara pemenuhannya dapat diwujudkan.
  • Manajemen Produksi adalah penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan standar yang ditetapkan berdasarkan keinginan konsumen, dengan teknik produksi yang seefisien mungkin, dari mulai pilihan lokasi produksi hingga produk akhir yang dihasilkan dalam proses produksi.
  • Manajemen Keuangan adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha untuk memastikan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan mampu mencapai tujuannya secara ekonomis yaitu diukur berdasarkan profit. Tugas manajemen keuangan diantaranya merencanakan dari mana pembiayaan bisnis diperoleh, dan dengan cara bagaimana modal yang telah diperoleh dialokasikan secara tepat dalam kegiatan bisnis yang dijalankan.
  • Manajemen Informasi adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha memastikan bahwa bisnis yang dijalankan tetap mampu untuk terus bertahan dalam jangka panjang. Untuk memastikan itu manajemen informasi bertugas untuk menyediakan seluruh informasi yang terkait dengan kegiatan perusahaan baik informasi internal maupun eksternal, yang dapat mendorong kegiatan bisnis yang dijalankan tetap mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di masyarakat.
  • Manajemen Strategi secara sederhana manajemen dapat di artikan sebagai Perencanaan, Pengorganisasian, Pergerakan, Pengawasan dalam rangka pengambilan keputusan.

 

3.   Manfaat Manajemen

 

1.Perencanaan (planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu. Manajer mengevaluasi berbagai rencana alternatif sebelum mengambil tindakan dan kemudian melihat apakah rencana yang dipilih cocok dan dapat digunakan untuk memenuhi tujuan perusahaan. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan, fungsi-fungsi lainnya tak dapat berjalan.

2.    Pengorganisasian (organizing) dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian dapat dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, dan pada tingkatan mana keputusan harus diambil.

3.Pengarahan (directing) adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha.

 

4.   Pengertian Kepemimpinan

Istilah pemimpin, kemimpinan, dan memimpin pada mulanya berasal dari kata dasar yang sama “pimpin”. Kepemimpinan atau leadership adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan yang efektif mempunyai sifat atau ciri-ciri tertentu yang sangat penting misalnya, kharisma, pandangan ke depan, daya persuasi, dan intensitas. Pada umumnya para pemimpin dalam setiap organisasi dapat diklasifikasikan menjadi lima type utama yaitu sebagai berikut :

  • Tipe pemimpin otokratis
  • Tipe pemimpin militeristik
  • Tipe pemimpin paternalistis
  • Tipe pemimpin karismatis
  • Tipe pemimpin demokratis

 

B.   PENETAPAN PERENCANAAN MANAJEMEN

 

1.   Pengertian Penetapan Perencanaan

Dalam manajemen, perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan tak akan dapat berjalan.

 

2.   Manfaat Penetapan Perencanaan

Manfaat pada perencanaan adalah sebagai berikut :

1.    Mengarah pada tindakan yang bertujuan.

2.    Menghindari kesalahan atau risiko.

3.    Metode yang digunakan bisa lebih baik.

4.    Mempermudah aktivitas atau kebutuhan kita

5.    Sebagai dasar untuk pengendalian.

 

3.   Jenis-jenis Penetapan Perencanaan

Jenis-jenis perencanaan pada suatu organisasi :

1.  Perencanaan strategis. Perencanaan strategis dianggap oleh organisasi secara keseluruhan dan dihasilkan oleh tingkat hirarki yang lebih tinggi dari sebuah organisasi. Perencanaan ini merupakan proses dimana eksekutif / top manajer meramal arah jangka panjang dari suatu entitas dengan menetapkan target spesifik pada kinerja, dengan mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal untuk melakukan tindakan perencanaan yang dipilih.

2.    Perencanaan Taktis. perencanaan, taktis, kinerja berada dalam setiap area fungsional bisnis, termasuk sumber daya tertentu. Perkembangannya terjadi oleh tingkat organisasi menengah, bertujuan untuk efisiensi penggunaan sumber daya yang tersedia untuk jangka menengah proyeksi.

1.    Perencanaan Operasional. Perencanaan Operasional ini dilakukan pada karyawan di tingkat terendah dari organisasi. Membuat perencanaan kecil sebuah organisasi dan merinci bagaimana tujuan akan dicapai.

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen

http://www.ilmumu.com/pengetahuan/pengertian-manajemen-dan-fungsi-manajemen/

http://d-p-y.blogspot.com/2013/05/jenis-jenis-manajemen.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Kepemimpinan

http://ervinanto.blogspot.com/2013/05/pengertian-kepemimpinan.html

http://studimanajemen.blogspot.com/2012/09/manfaat-perencanaan.html

http://id.shvoong.com/business-management/management/2293395-jenis-jenis-perencanaan-dalamtingkatan-organisasi/

Oktober 9, 2013 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

RANGKUMAN KESEHATAN MENTAL

A.  CIRI-CIRI KEPRIBADIAN

 

1.  Menurut Gordon Allport. Teori Allport tentang dorongan kepribadian yang sehat memasukan juga “prinsip penguasaan dan kemampuan” (principle of mastery and competence) yang berpendapat bahwa orang-orang yang matang dan sehat tidak cukup puas dengan melaksanakan dan mencapai tingkat yang sedang dan hanya memadai. Menurut Allport, faktor utama tingkah lalu orang dewasa yang matang adalah sifat-sifat yang terorganisir dan selaras yang mendorong dan membimbing tingkah laku menurut prinsip otonomi fungsional.

2.  Menurut Carl Rogers. Rogers menekankan pandangan bahwa tingkah laku manusia hanya dapat dipahami dari bagaimana dia mamandang realita secara subjektif. Konsep pokok dari teori kepribadian Rogers adalah self, sehingga dapat dikatakan self merupakan satu-satunya sruktur kepribadian yang sebenarnya. Self ini dibagi 2 yaitu : Real Self dan Ideal Self. Konsep self menggambarkan konsepsi orang tentang dirinya sendiri, ciri-ciri yang dianggapnya menjadi bagian dari dirinya.  Konsep self juga menggambarkan pandangan diri dalam kaitannya dengan berbagai perannya dalam kehidupan dan dalam kaitannya dengan hubungan interpersonal.

3.  Menurut Maslow. Menurut konsep Hirarki Kebutuhan Abraham Maslow, manusia didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal dan dibawa sejak lahir. Menurut maslow individu dimotivasi oleh kebutuhan yang tidak terpuaskan, meskipun kebutuhan ini terpuaskan karena adanya dorongan dan sifat dasar manusia yang tidak merasa puas maka munculah keinginan baru. Maslow menemukan bahwa tanpa memandang suku asal-usul seseorang, setiap manusia mengalami tahap-tahap peningkatan kebutuhan atau pencapaian dalam kehidupannya.

4.  Menurut Erich Fromm. Kepribadian yang sehat menurut Erich Fromm adalah pribadi yang produktif yaitu pribadi yang dapat menggunakan secara penuh potensi dirinya. Kepribadian yang sehat menurut Fromm ditandai beberapa hal antara lain pola hubungan yang sehat (konstruktif), bukan atas dasar ketergantungan ataupun kekuasaan dalam hubungan dengan orang lain, kelompok, dan Tuhan. Karena menurut Erich Fromm, manusia adalah makhluk sosial.

 

B. STRES

 

          Stres adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Stres menampakkan diri dengan berbagai cara. Sebagai contoh, seorang individu yang sedang stres berat mungkin mengalami tekanan darah tinggi. Akibat stres dapat dikelompokkan dalam tiga kategori umum : gejala fisiologis, gejala psikologis, dan gejala perilaku. Tipe Stres antara lain : tekanan, frustasi, konflik, dan kecemasan.

  • Faktor-faktor Individual dan Sosial Yang Menjadi Penyebab Stres. Faktor internal atau individu yang menyebabkan stres antara lain : keluarga, ekonomi, dan kepribadian. Faktor eksternal antara lain faktor lingkungan dan organisasi. Faktor lingkungan berupa keamanan dan keselamatan dalam lingkungan pekerjaan.
  • Symptom Reducing Responses Terhadap Stres. Mekanisnme pertahanan diri (defense mechanism) yang biasa digunakan individu untuk di jadikan strategi saat mengurangi stress : Represi, Pengalihan, Sublimasi, Proyeksi, Pembentukan Reaksi, Introyeksi, dan Regresi.
  • Pendekatan Problem Solving Terhadap Stres. Proses mental dan intelektual dalam menemukan masalah dan memecahkan masalah berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang cermat dan akurat. Atau ketika kita mendapatkan masalah dan membuat kita stres, lebih baik kita berdoa dan memohon petunjuk dari yang Maha Kuasa.
  • Koping (Coping) Terhadap Stres. Koping adalah sebuah mekanisme untuk mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima tubuh dan beban tersebut menimbulkan respon tubuh yang sifatnya nonspesifik yaitu stres. Macam-macam koping : Koping psikologis, Pada umumnya gejala yang ditimbulkan akibat stress psikologis tergantung pada dua factor yaitu : Bagaimana persepsi atau penerimaan individu terhadap stressor dan Bagaimana persepsi atau penerimaan individu terhadap stressor. Koping psiko-sosial, Yang biasa dilakukan individu dalam koping psiko-sosial adalah nmenyerang, menarik diri dan kompromi.

 

C. PENYESUAIAN DIRI DAN PERTUMBUHAN

 

          Pengertian penyesuaian diri adalah proses yang diharapi oleh individu dalam mengenal lingkungan yang baru. Penyesuaian diri memiliki karakteritistik yang dapat diamati. Karakteristik penyesuaian diri dapat dibedakan menjadi penyesuaian diri positif (normal) dan penyesuaian diri negatif (abnormal).

          Manusia disebut sebagai individu apabila tingkah lakunya spesifik atau menggambarkan dirinya sendiri dan bukan bertingkah laku secara umum atau seperti orang lain. Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor utama yang akan sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian. Faktor-faktor pertumbuhan dan perkembangan individu : Faktor heredokonstitusionil, Faktor genetik, dan Faktor lingkungan.

 

D. CINTA DAN PERKAWINAN

 

       Cinta merupakan salah satu bentuk emosi dan perasaan yang dimiliki individu. Perkawinan adalah ikatan lahir dan batin yang suci antara pria dan wanita yang melibatkan hubungan seksual, hak pengasuhan anak dan adanya pembagian peran suami – istri serta adanya keintiman, komitmen, persahabatan, cinta dan kasih sayang, pemenuhan seksual, pertemanan dan kesempatan untuk pengembangan emosional antara suami dan istri. Dalam perkawinan, antara individu kaum pria dan wanita harus didasari oleh cinta dan kasih sayang. Pernikahan memiliki tanggung jawab yang sangat besar, jadi kita harus memilih pasangan yang baik dan benar agar kita tidak salah memilih pasangan hidup dan tidak terjadi percaraian.

          Memilih pasangan hidup dalam pernikahan itu sangat penting dan hukumnya wajib, Rasulullah SAW telah memberikan teladan dan petunjuk tentang cara memilih pasangan hidup yang tepat dan islami antara lain : beragama islam, berakhlak baik, sehat jasmani dan rohani, dan rajin beribadah.

          Niat menikah saja tidak cukup, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Kesiapan mental, ekonomi, pendidikan belum lagi menghadapi friksi atau konflik dengan keluarga besar. Pada umumnya, banyak sekali pertengkaran bahkan terjadi perceraian dalam kehidupan berkeluarga. Perceraian merupakan terputusnya hubungan antara suami istri, yang dalam hal ini adalah cerai hidup yang disebabkan oleh kegagalan suami atau istri dalam menjalankan obligasi peran masing-masing. Jadi, sebelum memutuskan untuk melakukan pernikahan sebaiknya pertimbangkan secara matang agar menjadi keluarga yang harmonis dan keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah.

  • Penyesuaian dan Pertumbuhan Dalam Perkawinan. Penyesuaian dalam pernikahan pada dasarnya adalah hal yang berjalan sepanjang waktu, sepanjang pernikahan itu bahkan hingga salah satu dari pasangan meninggal dunia penyesuain tetap menjadi kebutuhan dan keharusan. Penyesuaian dengan pasangan juga butuh kesabaran dan kemauan untuk saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Perbedaan diantara pasangan suami istri adalah suatu hal yang wajar, dan karena perbedaan itulah Allah mempertemukan dan menyatukannya agar satu sama lain bisa saling melengkapi. Kebahagiaan dalam pernikahan kuncinya terletak di hati, dan berada pada diri masing-masing pasangan.
  • Perceraian dan Pernikahan Kembali. Pernikahan hanya mengikat sepanjang pasangan ini hidup. Pasangan yang sudah menikah harus mempertahankan pernikahan mereka selama pasangan hidup mereka masih hidup. Perceraian boleh terjadi alasan sebab yang tepat, seperti perzinahan atau ketidakcocokan antar suami dengan istri. Apabila perceraian terjadi antara suami dengan istri, makanya antar individu boleh melakukan pernikahan kembali.
  • Single Life. Masih banyak manusia yang masih memilih untuk hidup sendiri tanpa pasangan atau menjomblo dengan alasan yang berbeda-beda. Single atau Jomblo itu sendiri adalah mencari jati diri dan instropeksi diri untuk kedepannya dalam menentukan kehidupan. Single atau jomblo itu bukan berarti seseorang tidak laku, tetapi banyak orang yang masih ingin hidup bebas dengan teman-teman tanpa ada yang mengatur.

 

E. HUBUNGAN INTERPERSONAL

 

Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketertarikan interpersonal : faktor internal, faktor eksternal, dan faktor interaksi.

 

SUMBER :

http://www.psychologymania.com/2010/03/gordon-allport-tokoh-psikologi.html

http://www.psychologymania.com/2012/12/pengertian-aktualisasi-diri.html

http://www.psychologymania.com/2010/05/erich-fromm-teori-psikologi-sosial.html

http://www.psychologymania.com/2012/05/pengertian-stress.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Stres

http://www.psychologymania.com/2012/08/pengertian-koping.html

http://www.psychologymania.com/2012/09/pengertian-penyesuaian-diri.html

http://www.psychologymania.com/2012/09/karakteristik-penyesuaian-diri.html

http://www.psychologymania.com/2013/04/faktor-faktor-yang-mempengaruhi_27.html

http://www.psychologymania.com/2012/06/definisi-perkawinan.html

http://belajarpsikologi.com/memahami-makna-cinta/

http://www.psychologymania.com/2012/08/perceraian-dalam-tinjauan-sosiologis.html

http://cerdaskonsultan.wordpress.com/tag/penyesuaian-dalam-pernikahan/

http://pegasuscinta.blogspot.com/2012/03/keuntungan-dan-ruginya-menjadi-jomblo.html

http://psikologi.or.id/psikologi-umum-pengantar/hubungan-interpersonal.htm

http://www.psychologymania.com/2013/04/teori-hubungan-interpersonal.html

Juli 20, 2013 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

PENYESUAIAN DIRI DAN PERTUMBUHAN PERSONAL

A. Pengertian dan Konsep Penyesuaian

Pengertian penyesuaian diri adalah proses yang diharapi oleh individu dalam mengenal lingkungan yang baru. Menurut Schneiders (1964), pengertian penyesuaian diri dapat ditiinjau dari tiga sudut pandang, yaitu:

  1. Penyesuaian sebagai adaptasi
  2. Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas
  3. Penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri adalah proses dinamik dalam interaksi individu dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungan yang mencakup respon-respon mental dan perilaku untuk menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal, ketegangan, frustasi, konflik dan mencapai keselarasan antara tuntutan dari dalam diri dengan tuntutan dari luar diri individu.

Penyesuaian diri memiliki karakteritistik yang dapat diamati. Karakteristik penyesuaian diri dapat dibedakan menjadi penyesuaian diri positif (normal) dan penyesuaian diri negatif (abnormal).

 

Penyesuaian diri yang positif

Individu yang mampu melakukan penyesuaian diri secara positif ditandai hal- hal sebagai berikut (Sunarto & Hartono, 2006) :

  1. Tidak menunjukkan adanya ketegangan emosional
  2. Tidak menunjukkan adanya mekanisme-mekanisme psikologis
  3. Tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi
  4. Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri
  5. Mampu dalam belajar
  6. Menghargai pengalaman
  7. Bersikap realistik dan objektif.

Individu akan melakukan penyesuaian diri secara positif dalam berbagai bentuk, antara lain (Sunarto & Hartono, 2006):

  1. Penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung, yaitu secara langsung menghadapi masalah dengan segala akibatnya dan melakukan segala tindakan sesuai dengan masalah yang dihadapi individu.
  2. Penyesuaian dengan melakukan eksplorasi (penjelajahan), yaitu mencari berbagai bahan pengalaman untuk dapat menghadapi dan memecahkan masalah individu.
  3. Penyesuaian dengan trial and error (coba-coba), yaitu melakukan tindakan coba-coba, dalam arti kalau menguntungkan diteruskan dan kalau gagal tidak diteruskan.
  4. Penyesuaian dengan menggali kemampuan diri, yaitu individu menggali kemampuan-kemampuan khusus dalam diri, dan kemudian dikembangkan sehingga dapat membantu penyesuaian diri.
  5. Penyesuaian dengan belajar, yaitu menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari belajar untuk membantu penyesuaian diri.

 

Penyesuaian diri yang negatif

Kegagalan dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, dapat mengakibatkan individu melakukan penyesuaian yang salah, yang ditandai dengan berbagai bentuk tingkah laku yang serba salah, tidak terarah, emosional, sikap yang tidak realistik, agresif, dan sebagainya. Ada tiga bentuk reaksi dalam penyesuaian yang salah, yaitu (Sunarto & Hartono, 2006):

  1. Reaksi Bertahan (Defence reaction), yaitu individu berusaha untuk memperthankan dirinya, seolah-olah tidak mengahadapi kegagalan dan selalu berusaha untuk menunjukkan dirinya tidak mengalami kegagalan dengan melakukan rasionalisasi, represi, proyeksi, dan sebagainya.
  2. Reaksi menyerang (Aggressive Reaction), yaitu menyerang untuk menutupi kesalahan dan tidak mau menyadari kegagalan, yang tampak dalam perilaku selalu membenarkan diri sendiri, mau berkuasa dalam setiap situasi, kera kepala dalam perbuatan, menggertak baik dengan ucapan dan perbuatan, menunjukkan sikap permusuhan secra terbuka, dan sebagainya.
  3. Reaksi Melarikan Diri, yaitu melarikan diri dari situasi yang menimbulkan kegagalannya, yang tampak dalam perilaku berfantasi, banyak tidur, minum-minuman keras, bunuh diri, regresi, dan sebagainya.

 

B. Pertumbuhan Personal

Manusia  merupakan makhluk individu. Manusia disebut sebagai individu apabila tingkah lakunya spesifik atau menggambarkan dirinya sendiri dan bukan bertingkah laku secara umum atau seperti orang lain. Jadi individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas dalam lingkup sosial tetapi mempunyai kekhasan tersendiri yang spesifik terhadap dirinya didalam lingkup sosial tersebut. Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor utama yang akan sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian.

 

Faktor-faktor pertumbuhan dan perkembangan individu :

  • Faktor Heredokonstitusionil

Gen yang terdapat di dalam nukleus dari telur yang dibuahi pada masa embrio mempunyai sifat tersendiri pada tiap individu. Manifestasi hasil perbedaan antara gen ini dikenal sebagai hereditas. DNA yang membentuk gen mempunyai peranan penting dalam transmisi sifat-sifat herediter. Pada saat sekarang para ahli psikologi anak berpendapat bahwa hereditas lebih banyak mempengaruhi inteligensi dibandingkan dengan lingkungan.

  • Faktor Genetik.

Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Anak dapat mewarisi sifat tertentu.

  • Faktor Lingkungan.

Merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan. Faktor lingkungan dibagi menjadi  2, yaitu :

  1. Faktor pranatal adalah faktor lingkungan yang mempengaruhi anak pada waktu masih di dalam kandungan. Misalnya: gizi ibu pada waktu hamil, toksin/zat kimia, endokrin, radiasi, infeksi, dan stres.
  2. Faktor post-natal adalah faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir. Secara umum dapat digolongkan menjadi : Lingkungan biologis, Faktor fisik, Faktor psikososial, Faktor keluarga dan adat istiadat.

 

Sumber :

http://www.psychologymania.com/2012/09/pengertian-penyesuaian-diri.html

http://www.psychologymania.com/2012/09/karakteristik-penyesuaian-diri.html

http://www.psychologymania.com/2013/04/faktor-faktor-yang-mempengaruhi_27.html

Basuki, Heru. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma

Juni 9, 2013 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

HUBUNGAN INTERPERSONAL

A. Pengertian Hubungan Interpersonal

Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan relationship. Ketika akan menjalin hubungan interpersonal, akan terdapat suatu proses dan biasanya dimulai dengan “ Ketertarikan interpersonal (Interpersonal Attraction) ”. Menurut Baron dan Byrne (2006), Interpersonal Attraction adlah penilaian seseorang terhadap sikap orang lain, dimana penilaian ini dapat diekspresikan melalui suatu dimensi, dari strong liking sampai dengan strong dislike.

 

B. Faktor-faktor Hubungan Interpersonal

Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Ketertarikan interpersonal :

  1. Faktor Internal. Faktor internal yang mempengaruhi dari dalam diri, yang meliputi kebutuhan untuk berinteraksi dan pengaruh perasaan.
  2. Fasktor eksternal. Faktor eksternal yang mempengaruhi dimulainya suatu hubungan interpersonal adalah kedekatan ( proximity ) dan daya tarik fisik.
  3. Faktor Interaksi. Pada faktor interaksi, terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu persamaan-perbedaan (similarity- dissilarity) dan perasaan yang dikembalikan (reciprocal liking) Miller & Perlmen( 2009) mengemukakan bahwa sangat menyenangkan ketika menemukan orang yang mirip dengan diri kita dan saling berbagi asal usul, minat dan pengalaman yang sama.

 

C. Teori atau Model Hubungan Interpersonal

Dalam hubungan interpersonal terdapat beberapa teori atau model, yaitu :

  1. Teori pertukaran sosial. Teori ini memandang bahwa pola hubungan interpersonal menyerupai transaksi dagang. Hubungan antara manusia (interpersonal) itu berlangsung mengikuti kaidah transaksional, yaitu apakah memperoleh keuntungan dalam sebuah transaksi atau justru mengalami kerugian. Dengan demikian, orang berniat untuk menjalin hubungan dengan orang lain karena dilandasi oleh adanya keinginan untuk mendapat keuntungan.
  2. Teori Peranan. Peranan merupakan aspek dinamis dari suatu status (kedudukan). Peranan adalah tingkah laku yang diharapkan dari orang yang memiliki kedudukan atau status, antara kedudukan dan peranan tidak dapat dipisahkan. Tuntutan peranan adalah desakan keadaan yang memaksa individu memainkan peranan tertentu yang sebenarnya tidak diharapkan dalam hubungan interpersonal, kadang-kadang seseorang dipaksa memainkan peranan teretntu, meskipun peran itu tidak diharapkan. Apabila tuntutan peran tersebut dapat dilaksanakan, hubungan interpersonal masih terjaga. Konflik peranan terjadi ketika individu tidak sangggup mempertemukan berbagai tututan peranan yang kontradiktif.
  3. Teori Penetrasi Sosial. Hal yang pokok dalam penetral sosial adalah penyikapan diri (self disclosure) timbal balik, dimana setiap orang harus mengungkapkan dirinya pada orang yang disekitarnya sedikit demi sedikit. Pada awal hubungan terdapat suatu norma respon yang kuat yaitu pada saat orang sudah mulai membuka hal-hal mengenai dirinya, lingkunagannya dengan sendirinya akan melakukan hal yang sama. Dengan cara ini kepercayaan akan terbentuk.

 

D. Tahap Hubungan Interpersonal

Adapun tahap-tahap untuk menjalin hubungan interpersonal, yaitu:

  1. Pembentukan. Tahap ini sering disebut juga dengan tahap perkenalan, beberapa peneliti telah menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan. Pada tahap ini informasi yang dicari meliputi data demografis, usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya.
  2. Peneguhan Hubungan. Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan. Ada empat faktor penting dalam memelihara keseimbangan ini, yaitu: keakraban, kontrol, respon yang tepat, dan nada emosional yang tepat.
  3. Pemutus Hubungan. Menurut R.D. Nye dalam bukunya yang berjudul Conflict Among Humans, setidaknya ada lima sumber konflik yang dapat menyebabkan pemutusan hubungan, yaitu :
  • Kompetisi, dimana salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan orang lain.
  • Dominasi, dimana salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang tersebut merasakan hak-haknya dilanggar.
  • Kegagalan, dimana masing-masing berusaha menyalahkan yang lain apabila tujuan bersama tidak tercapai.
  • Provokasi, dimana salah satu pihak terus-menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui menyinggung perasaan yang lain.
  • Perbedaan nilai, dimana kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.

 

Sumber :

http://psikologi.or.id/psikologi-umum-pengantar/hubungan-interpersonal.htm

http://www.psychologymania.com/2013/04/teori-hubungan-interpersonal.html

http://psikologi.or.id/mycontents/uploads/2010/07/hubungan-interpersonal.pdf

Juni 9, 2013 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar